Lulusan Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) terus menunjukkan bahwa kompetensi komunikasi dapat diterapkan di berbagai bidang pekerjaan. Salah satunya adalah Mohammad ‘Afief Esyarito, alumni KPI yang saat ini aktif sebagai Tenaga Informasi dan Content Creator di Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) Provinsi Lampung serta Founder Do Kreatif dan Media Lampung Do.


Mohammad ‘Afief Esyarito menyelesaikan munaqosah pada 04 Januari 2024 dan mulai bekerja pada tahun yang sama. Kiprahnya menjadi salah satu contoh bahwa lulusan KPI tidak hanya memiliki peluang untuk bekerja di bidang penyiaran, tetapi juga dapat berkembang dalam dunia kreatif, pemerintahan, dan industri komunikasi.


Dalam pekerjaannya sebagai content creator di lingkungan pemerintahan, ia menerapkan berbagai pengetahuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Program Studi KPI. Menurutnya, perkuliahan KPI memberikan dasar yang relevan dalam memahami cara berkomunikasi, menyusun pesan, mengenali karakter audiens, serta menyampaikan informasi agar dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.


“Selama perkuliahan, saya tidak hanya mempelajari mengenai penyiaran, tetapi juga belajar bagaimana berkomunikasi dengan baik, menyusun pesan, memahami karakter audiens, membuat informasi menjadi menarik, serta menyampaikan pesan yang memiliki nilai dan manfaat bagi masyarakat,” jelasnya.


Pengetahuan tersebut kemudian diterapkan dalam proses pembuatan konten sehari-hari. Sebelum menghasilkan sebuah konten, diperlukan proses untuk menentukan target audiens, pesan utama, cara penyampaian, penggunaan visual, hingga bagaimana informasi dapat dipahami dengan mudah.


Menurutnya, proses tersebut merupakan bentuk nyata dari penerapan ilmu komunikasi yang diperoleh selama kuliah. Kemampuan memahami audiens dan mengemas pesan menjadi hal penting, terutama ketika informasi yang disampaikan ditujukan kepada masyarakat luas.


Nilai-nilai yang dipelajari dalam KPI, seperti etika komunikasi, penyampaian informasi yang benar, tanggung jawab dalam menyebarkan pesan, serta komunikasi yang memberikan manfaat, juga menjadi bagian penting dalam pekerjaannya.
Terlebih ketika bekerja di lingkungan pemerintahan, pembuatan konten tidak hanya berorientasi pada jumlah penonton atau interaksi. Informasi yang disampaikan harus benar, tidak menyesatkan, mudah dipahami, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.


Selain bekerja di Diskominfotik Provinsi Lampung, Mohammad ‘Afief Esyarito juga mengembangkan kreativitasnya melalui Do Kreatif dan Media Lampung Do. Dalam menangani kebutuhan komunikasi dan konten untuk berbagai usaha, ia dituntut memahami karakter setiap brand, target pasar, serta gaya komunikasi yang berbeda.


“Setiap brand memiliki karakter, target pasar, serta gaya komunikasi yang berbeda. Karena itu, strategi penyampaian pesan juga harus disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan masing-masing audiens,” ujarnya.


Pengalamannya di dunia kerja membuatnya melihat bahwa Program Studi KPI tidak hanya mempersiapkan mahasiswa untuk menjadi seorang penyiar, tetapi juga membentuk kemampuan sebagai seorang komunikator.
Menurutnya, perkembangan dunia komunikasi yang semakin luas membuka peluang bagi lulusan KPI untuk berkarier di berbagai bidang. Selain menjadi broadcaster atau jurnalis, lulusan KPI juga dapat bekerja sebagai content creator, public relations, social media specialist, copywriter, communication strategist, humas pemerintahan, hingga entrepreneur.

Melihat perkembangan dunia kerja saat ini, Mohammad ‘Afief Esyarito berpesan kepada mahasiswa KPI agar tidak hanya memikirkan tempat bekerja setelah lulus, tetapi juga mulai mengenali kemampuan yang dapat mereka tawarkan.
“Jangan hanya berpikir, ‘Setelah lulus saya mau bekerja di mana?’ tetapi mulailah berpikir, ‘Kemampuan komunikasi apa yang bisa saya tawarkan?’ Sebab, hampir semua bidang pekerjaan saat ini membutuhkan kemampuan komunikasi,” pesannya.
Ia mendorong mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan sesuai dengan minat masing-masing. Mahasiswa yang menyukai public speaking dapat mengasah kemampuan berbicara, sedangkan yang memiliki minat menulis dapat mempelajari copywriting dan storytelling. Bagi mahasiswa yang menyukai kamera, kemampuan presenter, videografi, maupun content creation dapat menjadi pilihan untuk dikembangkan.


Ia juga menekankan pentingnya membangun portofolio sejak masih menjadi mahasiswa. Berbagai kegiatan seperti mengikuti organisasi, menjadi MC, mengelola media organisasi, membuat podcast, belajar editing video dan desain, mengikuti kegiatan kampus, hingga mengambil pekerjaan freelance dapat menjadi pengalaman yang bermanfaat ketika memasuki dunia kerja.
Menurutnya, mahasiswa tidak perlu menunggu sampai merasa benar-benar hebat untuk memulai. Pengalaman kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bekal ketika menghadapi dunia profesional.


“Jangan hanya mengandalkan ijazah. Bangun portofolio sejak masih menjadi mahasiswa,” pesannya.
Baginya, pekerjaan sebagai content creator juga bukan sekadar membuat video. Di dalamnya terdapat proses berpikir, riset, komunikasi, kreativitas, memahami audiens, membangun hubungan, serta menentukan cara menyampaikan pesan agar dapat diterima dengan baik.


Kiprah Mohammad ‘Afief Esyarito menunjukkan bahwa ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan KPI dapat menjadi bekal untuk memasuki dunia kerja yang semakin beragam. Kemampuan berkomunikasi, memahami audiens, mengemas pesan, dan menjaga etika penyampaian informasi menjadi kompetensi yang dapat digunakan dalam berbagai profesi.
Bagi mahasiswa KPI, pengalaman tersebut menjadi gambaran bahwa ruang kerja lulusan komunikasi tidak terbatas pada satu profesi. Dengan terus mengembangkan keterampilan, pengalaman, dan portofolio, lulusan KPI memiliki kesempatan untuk berkontribusi di berbagai bidang sekaligus menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan